Archive for Etos Kerja

May
21

Bekerja Adalah Ibadah

Posted by: | Comments (0)

KEBANYAKAN orang menjalankan bisnis atau pekerjaannya dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan pribadi atau keluarganya. Bekerja adalah untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya demi membiayai semua kebutuhan-kebutuhan sehari-hari baik untuk jangka waktu pendek atau untuk keperluan jangka panjang. Ada orang yang bekerja dengan tujuan untuk membahagiakan dirinya sendiri atau keluarganya dengan penghasilan yang diperolehnya. Mereka secara bertahap berusaha meningkatkan pemasukan dengan meningkatkan atau mengembangkan usaha semaksimal mungkin. Namun, jika kita telusuri lebih jauh, apakah sesungguhnya makna dari bekerja itu memiliki nilai yang jauh, lebih mulia dari sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau sekadar untuk mencapai aktualisasi diri dengan talenta yang dimiliki masing-masing orang.

Apakah nilai-nilai tersembunyi dan agung di balik semua aktivitas bekerja yang kita lakukan sehari-hari? Apakah ada kaitan antara bekerja dengan ibadah?  Bagaimana mengkaitkan antara bekerja dengan ibadah, atau lebih tepatnya bagaimana melihat dan mempraktekkan aktivitas bisnis atau bekerja sebagai ibadah? Dalam Kitab Suci, ibadah sering dikaitkan dengan aktivitas penyembahan kepada Tuhan, datang ke rumah ibadat, berdoa, berpuasa, menyanyi dan memuji Tuhan serta mendengarkan Firman Tuhan (Kel 23:25; Ul 6:13; Yos 24:14, dll). Namun, aktivitas ibadah sesungguhnya juga tidak hanya digambarkan sebagai aktivitas ritual keagamaan saja, Alkitab juga menekankan bahwa proses aktivitas kehidupan sehari-hari juga adalah aktivitas ibadah. Ulangan 10:12 menuliskan: “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” Lebih tegas lagi, sebagaimana diajarkan oleh rasul Paulus dalam Roma 12:1 “ Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Kapan dan dimanakah tubuh manusia beraktivitas? Jawabannya tentu kapan dan di mana saja, termasuk dalam kegiatan bekerja. Dengan demikian, di mana tubuh kita berada, dan kapan pun itu, harus dimaknai dan dijalankan sebagai suatu aktivitas ibadah, dan itulah yang disebut Alkitab sebagai ibadah yang sejati.

Bagaimana menjalankan bisnis dan pekerjaan sebagai ibadah? Setiap orang Kristen harus terlebih dahulu merubah “mindset-nya” dalam menjalankan bisnis atau pekerjaannya ke dalam ranah ibadah. Ini bukan konsep dan buah pikir para filsuf, tetapi pengajaran Alkitab. Bekerja dalam konsep ibadah bukanlah suatu pilihan, tetapi sebuah panggilan dan harus menjadi komitmen dari setiap orang yang telah menerima penebusan dan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Alkitab menegaskan, bahwa seluruh aktivitas dan setiap detail hidup manusia harus dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan Allah: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Kor 10:31). Tentu tidak salah jika seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari atau untuk membahagiakan diri sendiri atau keluarganya, namun juga bukan itu tujuan utama seorang Kristen ketika berbisnis dan bekerja. Jika konsep dan nilai utama dari aktivitas bekerja sebagai seorang Kristen telah dilakoni sebagai suatu komitmen dan gaya hidup, niscaya kecukupan dan kebahagiaan itu sendiri akan menjadi upahnya. Namun jika suatu bisnis atau pekerjaan dilakukan semata-mata untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dan fokus serta nilai dari pekerjaan itu hanya untuk mencari uang, maka nilai uang akan menjadi segala-galanya dibandingkan nilai-nilai kehidupan yang lebih utama. Selain itu, biasanya orang-orang yang meletakkan nilai hidup dan pekerjaannya pada uang akan tunduk pada kekuasan uang atau menggunakan uang sebagai alat kekuasaannya. Oleh karena itu penting sekali menerapkan kasih dalam aktivitas pekerjaan, seperti nasihat Paulus: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Kor 16:14). Dalam kasih tidak akan ada niat untuk berlaku curang, dan  tidak ada keinginan atau motivasi melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, sehingga kasih itu akan selalu melindungi orang Kristen dari motivasi yang jahat.

Apakah anda sudah meletakkan nilai dan fokus dari aktivitas bisnis dan pekerjaan anda kepada suatu konsep, bahwa bekerja adalah ibadah. Bekerja sesungguhnya bukan sekadar untuk mememenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari. Bekerja memiliki nilai agung dan mulia, bekerja adalah suatu proses mengikuti rencana dan perintah Allah, mentaati panggilan dan amanah dari Tuhan. Jika anda mengintrospeksi diri, apa yg menjadi niat atau tujuan anda dalam menjalankan pekerjaan anda saat ini? Apakah anda sudah mengawalinya dengan “mindset” yang  benar? Bahwa bisnis dan pekerjaan adalah pemberian Tuhan, bisnis dan pekerjaan adalah untuk memuliakan Tuhan dan harus dijalankan dengan cara dan proses yang memuliakan Tuhan.  Apakah anda sudah megerjakan bisnis dan pekerjaan anda dengan maksimal dan dengan sebaik-baiknya? Sebagai pemimpin dalam sebuah perusahaan, apakah anda telah memberikan kepemimpinan yang baik, dan jika anda sebagai karyawan,  apakah Anda sudah menjalankan tugas Anda sebagai karyawan terbaik? Apakah kita sudah selalu memberikan yang terbaik dari semua sikap dan cara kerja kita saat ini? Tentu saja kita juga harus mengerjakannya dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Apapun pekerjaan anda, kerjakanlah dengan cara yg baik, bahkan yang terbaik.  Apakah kita menggunakan gaji kita untuk hal yang memuliakan Allah dan berguna secara maksimal bagi diri kita dan orang lain? Apakah kita sudah menggunakan hasil yg kita peroleh dari bekerja secara maksimal untuk kemuliaan Tuhan dan untuk kebaikan-kebaikan kita?

Dalam 1 Timotius 6:9-19 rasul Paulus memberikan suatu penegasan yang sangat kuat dan penting, yaitu agar orang Kristen tidak meletakkan uang sebagai fokus hidupnya. Uang dapat menjadi tuan yang sangat jahat dan mencelakakan. Uang bukan alat untuk pemuasan diri, tetapi harus dipakai sebagai alat kebaikan. Paulus menghendaki agar orang Kristen menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dengan apa yang dimiliki. Mengapa harus menjalankan bisnis atau pekerjaan sebagai ibadah? Jika kita memiliki pengenalan yang cukup mengenai keberadaan Allah, maka kita juga akan sampai pada pemahaman dan kesadaran akan keberadaan Allah yang selalu hadir kapan saja dan di mana saja (omnipresence). Bekerja dengan kesadaran dan pengertian yang benar akan keberadaan Tuhan yang selalu hadir dan kemahahadiran-Nya akan memberikan dampak dan perbedaan besar pada orang yang melakoninya. Selain itu, kesadaran bahwa sejak awal sejarah hidup manusia, pekerjaan itu sendiri adalah pemberian Allah. Ia yang memberikan pekerjaan itu kepada manusia, Tuhan yang memberikan talenta dan kemampuan yang unik pada tiap-tiap orang. Tuhan juga yang memberikan sumber daya manusia dan alam untuk dikelola, dikembangkan dan digunakan. Dengan demikian, sudah seharusnya kalau Tuhan adalah pusat dari segala aktivitas pekerjaan setiap orang Kristen. Orang yang memiliki kesadaran dan motivasi bahwa bekerja adalah ibadah akan selalu memiliki niat yang baik dan antusiasme yang kuat ketika mengawali, menjalankan, dan mengakhiri tugas-tugas pekerjaannya setiap hari.

Orang yang melakukan pekerjaannya sebagai ibadah akan terlebih dahulu mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada Tuhan dan mempersembahkan pekerjaan yang terbaik dan paling berkualitas untuk menyenangkan hati Tuhan. Itu sebabnya Paulus memberikan penekanan kuat kepada orang Kristen dalam Kolose 3:23: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”  Orang yang demikian akan menempatkan Tuhan sebagai boss utama dalam bisnisnya atau pekerjaannya, ia menyadari bahwa Tuhanlah yang pertama-tama menikmati dan memperhatikan pekerjaannya. Baik atau tidak baik pekerjaan itu dilakukan, yang pertama-tama melihat dan menilai pekerjaan itu ialah Tuhan, yang puas atau tidak puas atas aktivitas pekerjaan itu adalah Tuhan sendiri. Orang Kristen yang telah meletakkan bisnisnya untuk kemuliaan Allah akan mempersembahkan kinerja yang maksimal, dan selalu akan memperjuangkan integritas dalam pekerjaannya. Orang Kristen yang menjalankan pekerjaannya dalam konteks ibadah akan mempraktekkan cara-cara berbisnis yang benar dan berkualitas. Jika Allah telah menjadi pusat dalam hidup seorang Kristen, maka Ia juga harus menjadi pusat dalam semua aktivitas bisnis atau pekerjaannya (Kol 1:16). Martin Luther menuliskan: “Good works are the seals and proofs of faith; for even as a letter must have a seal to strengthen the same, even so faith must have good works.” Pekerjaan adalah untuk kemuliaan Allah, pekerjaan adalah ibadah dan pelayanan kepada Tuhan. Soli Deo Gloria!

Sumber: http://reformata.com/news/view/6476/bekerja-adalah-ibadah

Incoming search terms:

  • cara kerja maksimal
  • cara mempraktekan etos kerja
Comments (0)
Jul
19

Etos Kerja Terbaik

Posted by: | Comments (0)

Kisah di bawah ini dapat memberikan suatu makna yang dalam mengenai bagaimana etos kerja yang sebenarnya harus dimiliki oleh sesorang yang ingin sukses di dunia ini.

Suatu malam, seorang pria sepuh menggandeng istrinya memasuki lobi hotel kelas melati, di Philadelphia, Amerika. “Semua hotel besar di kota itu telah terisi penuh. Bisakah Anda menyediakan satu kamar saja buat kami?” ujar pria itu menjeritkan harap kepada resepsionis hotel tersebut. “Kamar kami telah dipesan jauh hari. Ada tiga event besar digelar bersamaan di kota ini sekrang. Tapi saya tidak tega membiarkan pasangan sebaik Anda kehujanan di jalan pada dini hari. Maukah Anda berdua menginap di apartemen saya?” jawab resepsionis. Orang tua itu mengangguk.

Keesokan harinya, pasangan sumi isteri tersebut berpamitan kepada resepsionis hotel tersebut, bapak tua berterima kasih kepada penolongnya. “Anda seharusnya menjadi pemimpin hotel terbaik di Amerika. Anda bekerja dengan keinginan kuat untuk mengabdi. Kelak saya mungkin bisa membangun hotel untuk Anda.” Pegawai hotel yang murah hati itu tersenyum, menanggapi kata-kata bapak tua itu dan kemudian melupakannya, karena mungkin itu hanya kata-kata pujian semata, dan kembali pada rutinitas melayani para tamu lain.

Dua tahun kemudian, datanglah sepucuk surat undangan kepada resepsionis hotel terbut disertai tiket terbang ke New York. Di metropolis terbesar di dunia itu, si Pak Tua mengajak tamunya ke sudut jalan antara Fifth Evenue Thirty-Fourth Street. Dia menunjukkan bangunan baru luar biasa megah. “Itu hotel yang saya janjikan dua tahun lalu. Mulailah Anda kelola sekarang.” George Charles Bold, si karyawan hotel melati, menerima tawaran Mr William Waldorf Astor.

Kisah Tuan Astor menemukan karyawan berjiwa melayani memberikan inspirasi dan pencerahan bagi jiwa yang sama yang dilimiliki William Waldorf Astor. Dia melihat George Charles Bold seabagai tipikal pekerja yang bisa bekerja melampaui kewajiban dan tugas tanggungjawabnya. Ia sanggup memberi lebih kepada orang yang membutuhkan bantuan dan pelayanannya bahkan melampaui batas kewajibannya, karena ia rela berkorban demi memuaskan dan memnuhi kebutuhan orang yang dilayaninya. Itulah Etos Kerja positif, produktif, bersemangat dan melayani. Semangat dan kerelaan bekerja sepenuh hati merupakan masalah paling penting di tempat kerja, bukan soal strategi dan taktik apalagi kewajiban. Rendahnya semangat dan produktivitas kerja sering mematikan masa depan seseorang, karena motivasinya rendah, daya juang rendah, pengorbanan bagi pekerjaan juga rendah, apa yang dapat diharapkan dari orang demikian. Tujuan bekerja semata demi menafkahi keluarga atau bertahan hidup.

Berbeda dengan tipe kepribadian George Charles Bold yang bekerja dengan dedikasi tinggi, rendah hati, rela melayani dan memberi lebih kepada orang lain, sehingga masa depan dan kesuksesan menghampirinya. Kesuksesan akan datang kepada orang-orang yang memiliki etos kerja maksimal, memiliki jiwa pengabdian, tidak dimotivasi semata-mata oleh gaji atau sekedar kewajiban. Ia kreatif dan menikmati kerja sebagai sesuatu yang memang harus dijiwai, dimaksimalkan supaya orang lain menerima manfaat terbaik dari eksistensinya di tempat kerja.

Bagaimana dengan Anda? Belajarla dari sikap kerja dan kepribadian George Charles Bold, bekerja adalah untuk memberi yang terbaik bagi pekerjaan itu sendiri dan bagi orang lain, maka kesuksesan dan kebahagiaan akan muncul sendiri sebagai dampaknya.

Salam sukses!

 

 

Incoming search terms:

  • menerima pujian rendah hati kepada tamu hotel
Categories : Etos Kerja
Comments (0)