Jul
27

Anugerah Terbesar

By · Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Sejatinya seluruh kehidupan manusia di muka bumi ini adalah anugerah Allah. Anugerah adalah sesuatu yang tidak dapat diusahakan oleh manusia, namun secara gratis diberikan kepada manusia oleh Allah sang Pencipta. Mulai dari kekayaan alam semesta dan segala hasil bumi yang dapat dinikmati oleh manusia, seperti mineral, batu-batu alam hingga batu-batu permata, berbagai jenis logam hingga logam mulia, semua jenis minyak dan semua makanan dan minuman dikaruniakan oleh Allah kepada manusia.

Terlebih lagi tubuh manusia dengan metabolisme yang luar biasa kompleks dan harmonis, kemampuan fisik dan fleksibilitas tubuh manusia, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi dan berbagai talenta mengagumkan hingga spiritualitas manunia. Pada dirinya sendiri semua potensi dalam diri manusia tidak pernah berasal dari diri manusia, semua berasal dari Allah, semua diciptakan oleh Allah. Semua potensi alam dan potensi manusia merupakan hasil karya Allah dan berasal dari  inisiatif Allah. Segala sesuatu yang dapat dipakai dan dinikmati manusia di dalam alam semesta ini adalah pemberian Allah bagi manusia. Manusia tidak bisa menciptakan matahari dan manfaat yang ada dari matahari, manusia tidak menciptakan oksigen, manusia tidak menciptakan air dan tidak menciptakan apa-apa selain dari mengolah yang sudah ada yang diberikan Tuhan di alam semesta dan di dalam diri manusia.

Tidak ada satu bentuk karya atau penemuan apa pun yang pada dirinya sendiri hasil inisiatif dan merupakan ciptaan manusia. Semua potensi, ide, keadaan, benda dan keberadaan alam semesta dan segala isinya dan pancaran nilai dan ekspresi dari setiap benda dan keadaan lingkungan yang saling mempengaruhi adalah karya Allah semata. Manusia hanya mengelola dan menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada di alam semesta, hanya wujud akhir dari sebuah produk yang berbeda ketika diciptakan, bukan sesuatu yang baru sama sekali.

Sehingga sejatinya tidak ada manusia yang dapat mengakui sesuatu seutuhnya dalam totalitasnya dapat menganggap karyanya adalah betul-betul hasil karyanya semata tanpa menggunakan materi dari alam yang merupakan ciptaan Allah. Termasuk kemampuan intelektual dan spiritual, bakat dan kemampuan fisik manusia adalah seutuhnya ciptaan Allah dan pemberian Allah bagi manusia.

Tidak ada dari segala yang ada yang tidak merupakan ciptaan Allah (Yoh 1:3), dan manusia hanya meminjam, atau menggunakan apa yang Allah pinjamkan dan percayakan kepada manusia untuk mengelola dan mengembangkankan untuk keperluan manusia. Segala sesuatu pada akhirnya bermuara pada diri Allah, segala sesuatu yang ada di dunia maupun di sorga pada akhirnya mengarah kepada keberadaan dan kemuliaan Allah sendiri. Ia yang menjadi puncak dari segala penciptaan, pusat dari keagungan dan keindahan alam semesta, pusat dari segala keindahan dan ketakjuban manusia akan bermuara pada keberadaan Allah.

Karena segala sesuatu diciptakan Allah untuk kemulian-Nya (Roma 11:36), sehingga semua manusia sejatinya dalam berkarya dan bertindak bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk memuliakan pribadi tertinggi dan termulia (the supreme God). Namun apa artinya semua keajaiban alam semesta bagi manusia, jika manusia hanya sebentar saja menikmati alam semesta dan yang ada di dalamnya, apa artinya segala kekayaan yang dapat dicapai manusia jika pada akhirnya ia akan mati bahkan seringkali mati dalam usia muda. Apa artinya hidup manusia di dunia ini dengan segala potensinya jika pada akhirnya semua manusia akan binasa, dan kematian fisik manusia merupakan petunjuk mutlak kebinasaan itu.

Kematian adalah akibat dari pelanggaran dosa yang dilakukan manusia, dan manusia tidak sanggup membebaskan dirinya sendiri dari kematian, ia tidak akan bisa bebas dari kematian (Maz 49:8-13). Kematian adalah sebuah kepastian yang akan dialami oleh manusia dan binatang, semua manusia akan mati dan secara rohani ia sudah mati. Dampak dari kematian rohani adalah terjadinya kerusakan spiritualitas di dalam diri manusia dan berdampak pada seluruh keberadaannya dan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya. Pengkhotbah mengatakan: “Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.” (Pkbh 9:3; Kej 5:6; Mz 49:15).

Dampak terbesar dari dosa adalah keterpisahan antara manusia dengan Allah, sejatinya manusia diciptakan untuk bersekutu dan menikmati keberadaan Allah dan persekutuan di dalamNya. Namun manusia dalam keberdosaannya tidak layak berada di dekat Allah, dan terlebih lagi manusia harus menerima hukuman kematian kekal karena dosa-dosanya. Setelah jatuh ke dalam dosa manusia semakin terperosok jauh ke dalam keberdosaan, manusia mengalami banyak sekali konflik, penderitaan, banyak sekali kejahatan terjadi di dunia ini, termasuk peperangan yang berpotensi bagi kematian banyak orang.

Apa yang dapat dilakukan manusia untuk menyelamatkan dirinya dari dosa dan hukuman kekal? Apa yang dapat dilakukan oleh manusia agar dosa-dosanya diampuni Tuhan? Mutlak tidak ada suatu tindakan apa pun yang dapat dilakukan manusia untuk membayar dosanya (Mz 49:8-10). Dengan demikian sesungguhnya hidup manusia sedang bergerak menuju penghukuman kekal dan kebinasaan dan tinggal menunggu kematian kekal itu menghampirinya dan semua orang harus menghadapinya.

 

Anugerah Terbesar

Puji syukur kepada Allah Bapa pencipta langit dan bumi, Ia memperhatikan manusia dalam segala keberadaannya, bahkan Allah melihat keterbatasan dan ketidakmampuan manusia membebaskan dirinya dari dosa dan kebinasaan kekal. Dalam keberadaannya yang penuh kasih jauh sebelum dunia diciptakan, Allah sudah menyediakan suatu rencana indah di dalam Yesus Kristus untuk diberikan kepada manusia, agar manusia tidak binasa dalam kematian kekal, namun memperoleh pembebasan (Yoh 3:16).

Setelah kejatuhan dalam dosa dan keterpisahan manusia dengan Allah serta penghukuman yang akan dialami manusia, maka satu-satunya cara untuk membebaskan manusia adalah tindakan anugerah Allah. Karena tidak ada alasan dalam diri manusia sehingga Allah harus berkewajiban untuk menyelamatkan manusia. Namun dalam kasih-Nya yang besar, dalam kerelaan-Nya dan dalam hikmat-Nya yang besar, Allah mau mendamaikan diri-Nya sendiri dengan manusia, dan satu-satunya cara yang harus dilakukan Allah adalah dengan membayar dosa manusia. Pembayaran dosa dalam hukum Taurat ditetapkan dalam bentuk darah, karena nyawa manusia ada dalam darahnya, dan nyawa dibayar dengan darah dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Imamat 17:11; Ibr 9:22).

Dengan demikian kedatangan Kristus sebagai manusia (daging) adalah suatu kemutlakan dan satu keharusan demi keselamatan umat manusia.  Sehingga satu-satunya jalan yang harus dilakukan Allah adalah dengan menganugerahkannya kepada manusia. Apakah tindakan anugerah ini sesuatu yang mudah untuk dilakukan Allah? Tentu saja sangat sulit karena Allah harus membayar dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus, dan itu pun bukan dengan cara yang mudah. Ia harus dilahirkan ke dalam dunia dan menjadi manusia. Alkitab menegaskan bahwa Yesus Kristus merelakan diri-Nya untuk datang ke dunia dan menjadi manusia, Ia tidak mempertahankan kesetaraan-Nya sebagai Allah dan mengosongkan diri dan menjadi manusia, bahkan Ia rela sampai mati di kayu Salib (Fil 2: 6-8).

Sesungguhnya manusia tidak layak menerima kasih karunia dan kemurahan Allah, karena manusia sepantasnya menerima hukuman. Tidak ada alasan dalam diri manusia sehingga Allah harus atau berkewajiban untuk menyelamatkan manusia. Keselamatan disediakan oleh Allah bagi manusia sebagai anugerah, pemberian cuma-cuma bagi manusia, namun dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh Yesus Kristus (1Pet 1:18).

Kelahiran Kristus (Natal) ke dalam dunia sepenuhnya adalah ungkapan kasih dan anugerah Allah yang terbesar kepada manusia yang melampaui apa pun yang ada di dalam segala  ciptaan (Yoh 3:16). Ia sendiri memberi diri-Nya sebagai korban tebusan dan pendamaian atas dosa-dosa manusia (Mat 5:24; 1Kor.7: 11). Keselamatan tidak pernah dihasilkan oleh manusia dan tidak mungkin dikerjakan oleh manusia dan tidak pernah bergantung pada keadaan manusia (Efesus 2:8-9). Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata. Anugerah itu mengembalikan hubungan manusia dengan Allah dan mempersekutukan lagi antara mansia dengan Allah. Melalui anugerah manusia dibenarkan dan dikuduskan, dan dipersiapkan untuk kehidupan kekal dalam kekudusan dan kemuliaan Allah. Orang yang telah menerima anugerah akan menunjukkan dalam hidupnya suatu sikap hidup dan cara hidup yang berbeda. Charles Spurgeon menuliskan: “Iman yang menyelamatkan adalah suatu relasi dengan Kristus, menerima dan hidup hanya di dalam Dia, untuk pembenaran , pengudusan dan hidup kekal dalam hikmat dan anugerah Allah.”

Anugerah itu yang membuat hidup kita berharga dan bermakna, yang mengakibatkan hidup yang penuh syukur, penuh sukacita, penuh kasih dan senantiasa ingin memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.  Gloria in excelsis Deo!

 

http://reformata.com/news/view/7072/anugerah-terbesar

Comments (0)
Dec
12

The Spirit of Christmas

By · Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Kelahiran Yesus Kristus sejatinya merupakan berita sentral dari seluruh Alkitab dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, dan kelahiran Yesus telah menjadi perayaan massa terbesar di dunia setiap bulan Desember. Kata “Christmas” sendiri berasal dari kata “Christ” (Kristus, dalam bahasa Yunani berarti “yang diurapi”) dan kata “mass”, yang berarti perayaan (celebration), secara sederhana “Christmas” dapat diartikan perayaan tentang Kristus dan kelahiran-Nya (perayaan natal). Sekalipun keotentikan mengenai perayaan Natal dan mengenai hari serta tanggal kelahiran Kristus tidak pernah berhenti diperdebatkan banyak kalangan termasuk oleh kalangan non Kristen. Banyak orang yang mencoba menyanggah bahwa kelahiran Kristus bukanlah di bulan Desember dan bukan berasal dari ajaran atau tradisi Alkitab, tetapi merupakan tradisi penyembah berhala (pagan). Namun ternyata tidak dapat disangkal bahwa Alkitab sendiri sesungguhnya menyingkapkan nilai-nilai keagungan yang maha ajaib dan penuh anugerah bagi kehidupan manusia melalui peristiwa kelahiran Kristus (natal). Pada akhirnya setiap orang Kristen yang benar-benar memahami makna dan tujuan dari kelahiran Kristus ke dunia tidak akan meletakkan makna natal pada hari dan tanggal kelahiran Kristus ke dunia. Perhitungan manusia dapat salah total namun Allah tidak mungkin salah dalam menghadirkan rencana dan kehendak kasih-Nya yang kekal bagi orang-orang yang dikasihi-Nya (baca. Ef 1:3-14). Dengan demikian makna perayaan natal tidak berpusat pada hari dan tanggal atau pada rutinitas kesibukan perayaan natal di bulan Desember,tetapi pada kelahiran dan hadirnya Yesus Kristus di dalam diri setiap orang yang telah menerima natal itu di dalam dirinya melalui proses lahir baru yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus di dalam hidupnya (Yoh 3:5; 1Pet 1:23).

 

Pengalaman Ultimate

Menerima dan memiliki Yesus Kristus merupakan pengalaman menerima kekayaan dan kemuliaan yang tak ternilai dan tak terbayarkan oleh hal apa pun, bahkan sesungguhnya tidak ada manusia yang berhak dan layak menerima Kristus di dalam dirinya kecuali hanya menerimanya sebagai anugerah Allah semata (Ef 2:8-9; 1Pet 1:18-19; Mz 49:8-10). Keselamatan tidak pernah merupakan produk dari usaha dan tindakan serta kemauan atau pilihan manusia, sepenuhnya peristiwa natal dalam diri setiap orang Kristen merupakan pemberian gratis (solagratia) dari Allah. Kepada siapa anugerah itu diberikan dan karena apa seseorang menerima anugerah itu diberikan semuanya dilakukan oleh Allah dalam kasih dan kerelaan serta dalam kedaulatan dan rencana-Nya yang sempurna. Sehingga tidak ada satu orang pun dapat membanggakan diri dan merasa “spesial” ketika ia menjadi seorang Kristen dan memiliki hidup kekal di dalam dirinya (1Yoh 1:11-13). Dampak dari menerima kelahiran Kristus (natal) di dalam diri seorang Kristen adalah bahwa dalam kehidupan orang tersebut memancarkan kembali pribadi Kristus (kasih dan kekudusan-Nya) dalam tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari. Perayaan natal terbaik adalah sebuah demonstrasi kehidupan yang penuh dengan terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari yang memuliakan Allah (1 Pet 2:9). Seperti tertulis dalam Matius 5:16: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Mengapa berita kedatangan Kristus begitu penting dan begitu berdampak besar bagi kehidupan manusia? Karena berita natal adalah berita pembebasan kepada manusia yang sedang dijajah dan terbelenggu oleh dosa dan dampak kekal yang diakibatkannya, yaitu kematian kekal (Rm 6:23). Natal bukan hanya membebaskan manusia dari dampak kematian kekal, namun ketika manusia hidup di dunia tanpa kedatangan Kristus, maka hidup manusia akan tetap berada dalam kesia-siaan belaka, tragedi terbesar dan penderitaan terbesar hidup manusia tidak akan pernah terselesaikan. Sesungguhnya semua manusia sedang berjalan dalam kegelapan, dan tanpa disadari oleh semua manusia bahwa ia sedang berjalan menuju jurang kebinasaan (Yes 8:22, 9:1). Api neraka yang menyala-nyala sedang menganga terbuka lebar untuk menyambut kejatuhan dan kematian serta hukuman kekal manusia berdosa (2Pet 2:4; Why 21:8). Namun Alkitab berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

 

The Spirit of Christmas

Kasih Allah yang besar adalah inti berita natal, rencana dan tindakan penyelamatan hidup manusia dari kesia-siaan dan kematian kekal, demostrasi penebusan dan penyelamatan yang bukan hanya sekedar demostrasi kekuatan dan kekuasaan Allah untuk dapat menyelamatan manusia. Namun lebih didasari oleh kasih yang sempurna yang penuh dengan pengorbanan di kayu salib. Allah sendiri yang menetapkan harga penebusan dan penyelamatan itu, manusia tidak dapat membayarnya, sehingga Allah yang harus membayar “denda” (ransom) dari dosa manusia dengan kematian Kristus di kayu salib (Im 17:11; Ibr 9:22). Merayakan natal di bulan apa dan tanggal berapa pun tidak akan pernah melanggar prinsip kebenaran Alkitab, kapan pun itu dirayakan dengan maksud merayakan kasih dan kebaikan Allah di dalam pribadi sang Juruselamat Dunia, Yesus Kristus akan tetap sah dan bermakna. Perayaan natal di bulan Desember bisa menjadi satu momen perayaan masal di seluruh dunia, tetapi perayaan natal yang sesungguhnya adalah merayakan kelahiran Kristus penebus dosa di dalam tiap-tiap individu yang percaya. Dengan demikian perayaan natal di bulan Desember bukan lagi untuk diperdebatkan, namun dapat dirayakan dengan penuh sukacita dan gegap gempita sebagaimana para gembala bersukacita ketika mendengar kabar kedatangan sang Mesias Juruselamat ke dalam dunia (Luk 2:20). Semangat (spirit) merayakan natal sesungguhnya adalah menghidupi dan menghadirkan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari dengan selalu menjaga kekudusan hidup, rajin menghasilkan perbuatan-perbuatan baik bagi orang lain dan yang memuliakan Bapa di sorga. Perayaan natal yang sejati bukan dengan pesta-pesta meriah dan bukan untuk pemuasan emosi melalui ibadah-ibadah yang meriah. Semangat natal adalah semangat untuk merendahkan diri dihadapan Allah, merendahkan hati dihadapan manusia, semangat untuk mengasihi dengan tulus, semangat untuk mengampuni orang yang bersalah. Semangat natal adalah semangat untuk selalu bersyukur dan memuji Tuhan, semangat untuk mengasihi Allah dan sesama, semangat untuk memuliakan Allah yang maha tinggi melalui setiap detail kehidupan kita. Gloria in excelsis Deo!

 

Categories : Spiritualitas
Comments (0)
Mar
17

Hidup Melampaui Mediokritas

By · Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:14-16).

Teguran dan peringatan Allah kepada jemaat di Laodikia sangat serius, karena Allah melihat suatu keadaan yang sangat memprihatinkan  dan sangat menyedihkan berkaitan dengan kualitas iman dan kerohanian mereka. Intinya adalah kelumpuhan rohani yang disebabkan oleh perasaan puas pada kemapanan dan kenyamanan hidup, sementara Allah melihat mereka sebagai orang miskin dan buta dan telanjang. Karena keadaan rohani mereka berada jauh dari kondisi yang Allah harapkan sebagai umat-Nya. Allah mengencam mereka agar bertobat dan memperbarui hidup mereka sesuai dengan standar kualitas kerohanian yang Allah kehendaki. Jemaat Laodika adalah gambaran dari orang Kristen yang tidak menghidupi iman kekristenannya dengan sungguh-sungguh, dan hanya suam-suam kuku. Mengapa dalam kehidupan keseharian kita kualitas hidup orang Kristen pada umumnya tampak seperti tidak berbeda dengan orang-orang non Kristen? Kita tidak memiliki catatan atau bukti otentik bahwa orang Kristen secara umum memiliki tingkat kerohanian dan tingkat kehidupan moral yang lebih baik dari kebanyakan orang-orang dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Malahan banyak catatan dan laporan di media massa yang mengungkapkan bahwa pelaku-pelaku kriminalitas juga adalah orang-orang Kristen, dan tidak sedikit pemimpin rohani yang terlibat pelanggaran moral dan hukum. Mengapa banyak orang Kristen gagal mengalami pertumbuhan dan gagal menjalankan kerohanian yang otentik dalam kehidupannya?

Mengapa banyak gereja yang telah melayani berpuluh-puluh tahun dan dengan ribuan anggota jemaatnya namun gagal mengalami pertumbuhan iman yang sejati? Mengapa demikian? Kemungkinan besar salah satu penyebabnya adalah spirit mediocre yang bercokol dalam diri kebanyakan orang Kristen. Istilah mediocre (mediokritas) berasal dari kata medio dan ocris, medio berarti keadaan ditengah atau menengah, sedangkan ocris digambarkan sebagai puncak tertinggi sebuah gunung. Mediokritas (mediocre/mediocrity) menggambarkan suatu kualitas atau keadaan menengah atau bermakna setengah, sehingga mediocre juga diartikan berada di tengah jalan menuju puncak dan belum mencapai puncak.  Menjadi orang Kristen mediocre adalah menjadi orang Kristen kelas dua, dengan kualitas biasa-biasa saja dan bukan orang Kristen yang terbaik. Dalam level ini orang Kristen menghidupi kekristenannya dengan asal-asalan saja, sekalipun bukan yang terburuk, namun orang-orang mediocre tidak pernah menjadi yang terbaik.

 

Level Mediokriotas

Pada umumnya orang senang berada di level mediokritas, karena di level inilah orang sering menikmati zona nyaman, tanpa harus serius menjalani iman Kristen, dalam bergereja atau dalam aktivitas pelayanan. Kebanyakan orang lebih suka dalam kenyamanan pribadi dan kebanyakan tidak siap membayar harga untuk menjadi yang terbaik, akhirnya tidak pernah betul-betul menjadi orang Kristen sejati.  Orang Kristen di level mediocre akan berkata “kalau ke gereja ngga usah terlalu serius, kalau melayani Tuhan ngga usah ngotot,” dsb. Menjadi orang Kristen mediocre adalah menjadi  jemaat Gereja dan bangga menjadi orang yang telah diselamatkan oleh Kristus namun juga menjadi orang Kristen tanpa ada komitment yang serius pada kebenaran dan tanpa harus berkewajiban mentaati Firman Tuhan sepenuhnya. Sehingga kebanyakan orang yang hidup di level ini menginginkan suatu kehidupan yang agak bebas dan mudah terjatuh untuk mengikuti gaya dan nilai hidup yang berlaku disekelilingnya. Kehidupan yang tampak dalam keseharian orang Kristen mediocre mungkin saja kelihatan sangat baik, namun sesungguhnya tidak pernah menjadi yang terbaik. Banyak orang Kristen hanya digerakkan oleh situasi dan bereaksi spontan terhadap berbagai kondisi hidup daripada serius berkomitmen dan bergumul bersama Allah untuk mencapai tujuan-tujuan Allah. Hidup orang Kristen harus senantiasa digerakkan oleh nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan sehingga ia benar-benar dapat hidup sebagai terang dan garam di dalam dunia ini. Sehingga akan memberikan perbedaan yang otentik yang jelas terlihat dari perilaku hidupnya di dalam keluarga, dalam cara bekerja, dalam bermasyarakat dan bernegara.

 

Bagaimana agar hidup melampaui mediokritas?

Ada banyak contoh pribadi di dalam Alkitab yang pernah mengalami kegagalan dan peranh menjadi mediocre dalam hidup mereka namun dalam perjalanan iman mereka kemudian menjadi orang-orang Kristen yang berhasil menjadi yang terbaik dan hidup sebagai orang Kristen yang luar biasa. Mereka adalah Abraham, Musa, Yosua, Yusuf, Daud, Daniel, Nehemia, Petrus, Paulus, Petrus dll. Apa yang membedakan mereka dengan orang Kristen mediokritas? Pribadi-pribadi yang hidup di level terbaik (excellent) ini memiliki kualitas yang jarang dimiliki orang Kristen pada umumnya. Pertama-tama mereka menangkap dan menerima visi dan misi Allah di dalam hidup mereka dan mereka berkomitmen untuk menghidupinya secara utuh, bukan memaksakan kehendak dan keiginan-keinginan pribadi. Mereka menyerahkan totalitas hidup mereka untuk taat dan tunduk melakukan kehendak Tuhan dan demi keselamatan orang-orang yang sedang mereka layani. Mereka memiliki komitmen penuh untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan mereka menolak untuk hidup dalam kenyamanan pribadi. Mereka mengandalkan iman yang teguh dalam melayani dan memuliakan Tuhan melalui semua yang mereka kerjakan. Ciri utama lainnya yang sangat jarang ditemukan pada kualitas anak Tuhan atau pada kebanyakan orang Kristen adalah bahwa mereka semua rela berkorban mempertaruhkan nyawa mereka demi tercapainya tujuan Allah di dalam hidup mereka. Sebagaimana Musa mempersembahkan hidupnya dengan segala resiko selama di padang gurun, seperti Yusuf yang tidak membalas dan mempersalahkan saudara-saudaranya, seperti Nehemia yang berjuang siang dan malam membangun tembok Yerusalem, seperti Daniel dkk., yang rela dibakar demi mentaati Allah. Seperti kesediaan Ester ketika diminta menolong umat Israel yang sedang dalam ancaman kematian: “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”  (Ester 4:16). Rasul Paulus berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” (Filipi 1:21-22). Bagi mereka tujuan Allah jauh lebih penting dari tujuan pribadi, misi Allah jauh lebih penting dari ambisi pribadi. Di level manakah kualitas iman dan kekristenan kita? Jangan pernah puas hanya sekedar menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja? Mari melangkah keluar dari zona nyaman kita dan berusaha hidup melampaui level mediokritas. Tuhan memanggil kita untuk menjadi yang terbaik di dalam hidup kita dan menjadi serupa dengan Dia: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh 2:6). Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk mempersembahkan totalitas hidup kita secara maksimal dan menjadi orang-orang Kristen yang terbaik bagi kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria.

Categories : Spiritualitas
Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan

Ada satu kesinambungan dan satu konsep yang utuh dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus menjadi manusia yang selanjutnya mengorbankan diri-Nya dan mati di kayu salib dan kemudian Ia bangkit dari kubur dan akhirnya naik ke surga. Tidak semua orang Kristen menyadari atau memikirkan secara serius bahwa tubuh bayi Yesus yang lahir di Betlehem juga adalah tubuh yang mati di kayu salib dan kemudian bangkit dari kubur dan tubuh yang sama itu juga yang naik ke surga.

Kis 2:31 “…Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. 2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi

Jika kita mempelajari urutan peristiwa kelahiran hingga kenaikan Tuhan Yesus ke surga maka kita akan mendapatkan suatu pemahaman tertentu mengenai Yesus yang lahir, mati, bangkit dari kematian dan dengan tubuh yang sama itu pula Ia kemudian yang naik secara fisik ke surga (1Pet 3:18-22). Alasan utama Allah menjadi manusia dan lahir ke dalam dunia di dalam diri Yesus Kristus adalah dalam rangka memenuhi tuntutan pembayaran korban tebusan dan korban keselamatan yang Allah kehendaki. Syarat yang sesungguhnya ditentukan oleh hukum Taurat untuk pengampunan dosa manusia yang sempurna adalah darah manusia yang suci, yang sempurna dan sama sekali tidak bercacat. Alkitab menegaskan bahwa semua manusia telah jatuh dalam dosa dan telah “terjual” di bawah hukum Taurat dan telah dinyatakan bersalah (berdosa) terhadap Allah dan hukumannya adalah kematian, dan akan dibinasakan dalam kekekalan (Roma 3:23-25, 6:23). Alkitab menyatakan bahwa tidak ada manusia yang sanggup membayar dosanya, karena terlalu mahal harga pembayarannya dan selamanya tidak akan terbayarkan (Mz 49:8-13). Kematian dan hukuman kekal adalah suatu kepastian yang akan menimpa setiap orang tanpa ada satu orang pun yang akan terluput, karena semua orang telah berbuat dosa dan telah terjatuh dalam dakwaan hukuman kekal. Itulah sebabnya Allah harus menyediakan korban tebusan dalam tubuh dan darah manusia,  dan yang telah dilakukan Allah di dalam diri Yesus Kristus melalui proses kelahiran hingga kematian-Nya. Alkitab memberikan catatan yang lengkap mengenai nubuatan kelahiran Yesus Kristus hingga kematian-Nya dan bagaimana kematian itu terjadi (Yes 53). Alkitab memberitahukan dengan jelas bahwa Yesus lahir ke dunia untuk menyelesaikan misi penyelamatan dan penebusan melalui kematian-Nya di kayu salib. Allah rela mengaruniakan anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus mati di kayu salib (Yoh 3:16). Kematian Yesus bukan hanya sekedar mati sebagaimana manusia mati, kematian-Nya adalah untuk membayar korban tebusan umat-Nya, dan kematian-Nya adalah untuk mengalahkan maut (1 Kor 15:54-57). Hanya manusia Allah di dalam Kristus yang dapat memenuhi tuntutan murka Allah. Darah Kristus yang suci dan mahal itu adalah korban sempurna yang Allah kehendaki (Ibr 9:22, 10:4-10), dan tidak ada cara lain yang dapat menyelamatkan manusia selain Allah sendiri menjadi manusia dalam Yesus Kristus dan memberikan diri-Nya menjadi tebusan untuk membayar dosa-dosa umat pilihan-Nya di kayu salib (baca Im 17:11; Ibr 9:14, 22; Ef 1:7; 1 Kor 6:20). Hanya melalui proses pengorbanan diri Yesus dan dan darah-Nya yang dapat memenuhi tuntutan keadilan Allah atas dosa manusia dan juga dapat memuaskan tuntutan kekudusan Allah. Pada saat yang bersamaan kematian Kristus adalah juga merupakan ekspresi kasih terbesar Allah kepada manusia yang berdosa. Kematian Kristus tidaklah berakhir di kuburan, sebelum mati Ia sudah memberitahu murid-Nya bahwa Ia akan dibangkitkan pada hari yang ketiga (Luk 9:22).  Setelah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan selama empat puluh hari Ia bersama mereka dan terus mengajarkan hal Kerajaan surga kepada mereka. Setelah itu Yesus mengajak murid-murid-Nya ke Betania dan mengutus mereka untuk memberitakan kabar pertobatan dan mengenai pengampunan dosa kepada seluruh bangsa. Setelah itu para murid menyaksikan Yesus naik menuju awan dan Yesus memberkati para murid-murid lalu menghilang di balik awan dan terangkat ke surga (Lk 24:50-53). Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, malaikat Tuhan berakata kepada mereka: “Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kis 1:10-11). Tuhan Yesus juga memerintahkan agar murid-murid menunggu hingga Roh Kudus turun atas mereka. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga ini terlihat menjadi suatu moment khusus dan berdampak sangat penting bagi para murid-murid Tuhan Yesus. Injil Lukas menuliskan bahwa murid-murid kembali ke tempat mereka berkumpul di Yerusalem dengan sukacita dan rasa syukur yang besar (Lk. 24:52). Dalam  peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ini terlihat suatu ekpresi yang jauh berbeda di dalam diri murid-murid dibandingkan ketika Yesus ditangkap kemudian mati disalib. Bahkan ketika Yesus bangkit dari kematian, bagi para murid-murid Yesus sekalipun mereka diliputi dengan perasaan senang namun juga masih muncul perasaan mencekam ketika mereka tahu Yesus telah bangkit dari kubur. Namun peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga menjadi suatu titik balik yang membuka mata rohani mereka dan memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih utuh mengenai Yesus Kristus yang mereka percayai sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Mereka dapat melihat semua urutan peristiwa yang lebih lengkap dan utuh mengenai berita nubuatan tentang Yesus di dalam Kitab. Mulai dari kelahiran Kristus, penyataan mengenai siapa diri-Nya,  aktivitas pelayanan pemberitaan Injil Kerajaan Allah serta pernyataan mujijat-mujijat-Nya hingga peristiwa kematian-Nya (Yes 7:14; Luk 1:30-35). Mereka melihat  Yesus dalam bentuk tubuh-Nya itu  terangkat naik ke surga dan mereka adalah saksi dari semua peristiwa itu.

Pentingnya Kenaikan Yesus

Kenaikan Kristus ke surga adalah bagian yang integral dengan keseluruhan tujuan kedatangan-Nya ke dunia dalam kerangka rencana penyelamatan umat pilihan-Nya (Roma 8:29-30). Malaikat Tuhan mengatakan bahwa dengan cara yang sama Kristus akan datang untuk kedua kalinya, turun dari surga dan akan membangkitkan umat pilihan-Nya dan dan dalam sekejap mata akan diubah ke dalam tubuh yang tidak dapat binasa dan akan diangkat bersama Kristus ke surga (1 Tes 4:14-17; 1 Kor 15:51-54; Why 10:7). Kenaikan Kristus ke surga adalah susatu keharusan karena Ia sendiri berasal dari surga. Ia bukan berasal dari dunia, Ia tidak lahir dari persetubuhan laki-laki dan perempuan, melainkan dari Roh Allah: “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:28). Kenaikan Kristus ke surga menjadi sangat penting juga karena Ia naik ke surga untuk menyediakan tempat di surga bagi umat tebusan-Nya (Yoh 17). Sebelum naik ke surga Yesus juga telah memberitahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan datang kembali untuk membawa mereka naik ke surga: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Ia naik ke surga dan mempersiapkan tempat bagi umat yang telah ditebus-Nya (Yoh 14:1-3). Kenaikan Kristus ke surga menjadi sangat penting dan merupakan hal yang berkesinambungan dengan penebusan yang menjembatani pelayanan Yesus di bumi (sejarah) dan di surga (Roma 8:34). Kristus naik ke surga untuk menyempurnakan penebusan di bumi. Ia naik ke surga ke dalam Tabernakel yang sesungguhnya dan saat ini Ia sebagai Imam Besar bertahta di surga (Ibr 8:1-2). Beriman dan mempercayai Yesus yang lahir ke bumi dan Yesus yang naik ke surga adalah satu kesatuan konsep yang utuh  yang diajarkan oleh Alkitab. Kenaikan Kristus ke surga adalah gambaran yang akan terjadi di dalam kehidupan orang percaya dimasa datang secara pasti.

Sukacita besar bagi seluruh umat Allah “Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.” (Lukas 24:51-52).

Comments (0)
Apr
09

CORAM DEO

By · Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Allah dalam kemahahadiran-Nya (omnipresence) hadir dimana saja dan kapan saja dalam setiap aspek kehidupan manusia dan dalam semua aspek ruang dan waktu di semesta alam, yang juga tentunya pada saat yang bersamaan berada di surga dan dalam kekekalan. Mazmur 139 menggambarkan dengan begitu indah tentang kejaiban keberadaan Allah, kemahakuasaan-Nya, kemahatahuan dan kemahadiran-Nya yang tidak dapat dipahami seutuhnya oleh manusia. Kemana pun manusia pergi, dimanapun manusia beraktivitas, Allah ada disana dan Roh Allah itu hadir di dalam seluruh keberadaan alam semesta bahkan di dunia kekelaman sekalipun Tidak ada tempat dimana Allah tidak hadir dan tidak ada tempat dimana Allah berada jauh dari manusia dan bahwa kita semua tidak akan pernah lepas pandangan mata Allah serta pemeliharaan-Nya (Mazmur 121). Kehadiran Allah yang begitu riil dan tidak terhindarkan ini dalam bahasa latin sering disebut dengan istilah “coram Deo.” RC. Sproul menuliskan arti coram Deo ini dengan indah: “This phrase literally refers to something that takes place in the presence of, or before the face of, God. To live coram Deo is to live one’s entire life in the presence of God, under the authority of God, to the glory of God.” Hidup di hadapan Allah berarti benar-benar sedang berhadapan dengan Allah ditempat kita berada  dan ditempat kita beraktivitas, dan secara terus menerus berhadapan wajah dengan wajah dengan Allah sendiri. Sehingga totalitas keberadaan hidup kita seluruhnya berada dibawah otoritas kedaulatan dan kemuliaan Allah (bd Kis 17:16-29). Oleh karena itu sebagai orang Kristen kita harus hidup dalam suatu kesadaran penuh bahwa apapun yang kita lakukan dan di mana pun kita melakukannya, kita sedang berhadapan dengan kehadiran dan tatapan mata Allah.  Jika kita menghayati dan memahami kemahadiran Allah (omnipresence of God) dengan segala atribut-Nya yang tidak terbatas dan dengan segala implikasi hidup orang Kristen, sejatinya akan memberikan dampak yang sangat luar biasa pada kehidupan kita dan kehidupan orang lain. Namun dalam realita kehidupan keseharian banyak orang Kristen dalam aspek moral dan perilakunya gagal menunjukkan kehidupan iman yang benar dan signifikan. Salah satu penyebab kegagalan orang Kristen dalam menyatakan hidup yang signifikas adalah karena sikap dan responnya yang tidak tepat atas keberadaan dan kehadiran Allah di dalam totalitas kehidupannya. Orang Kristen bisa saja sangat aktif beribadah, memahami banyak prinsip-prinsip Alkitan dan  bahkan terlibat dalam berbagai pelayanan gereja, namun dengan kualitas kerohanian yang biasa-biasa saja atau tidak baik sama sekali (bd Mat 15:1-15). Allah di dalam segala kemakuasaan dan kedaulatan serta kasih-Nya yang besar telah berjanji untuk menyertai, melindungi dan akan memberkati seluruh kehidupan oran Kristen di dunia ini. Namun dari pihak Allah juga menuntut suatu respon total dari setiap orang Kristen untuk setia dan taat pada perintah-perintah Allah (1Yoh 2:6; Lk 9:23; Mat 5:20). Untuk dapat menghayati arti kehadiran Allah secara utuh tentunya membutuhkan juga pengenalan dan kesadaran akan semua atribut keberadaan Allah sebagaimana yang Allah singkapkan diri-Nya melalui Alkitab. Mengenal Allah dalan kemahahadiran-Nya berarti juga harus memahami dan menyadari aspek kekudusan-Nya, kedaulatan-Nya,  kemahakuasaan-Nya dan juga kemahakasih-Nya, dan dengan segala atribut keberadaan-Nya yang lain tidak terbatas. Hidup di bawah kedaulatan Allah bukan didasari oleh rasa takut akan hukuman, namun dimotivasi oleh tujuan yang lebih tinggi daripada itu yaitu rasa hormat dan kasih kepada Allah. Hidup orang Kristen yang telah diselamatkan melalui pengorbanan dan kematian Tuhan Yesus haruslah menjadi sebuah bentuk ibadah dan persembahan hidup yang dilandasi pujian dan syukur (Roma 12:1). Semangat hidup dalam penghayatan coram Deo adalah suatu hidup yang berintegritas dan dalam keutuhan hidup yang koheren dengan kehadiran Allah serta prinsip-prinsip kebenaran Firman-Nya. Prinsip utama dari semua kegiatan iman orang Kristen bukanlah sekedar menuruti kewajiban-kewajiban agama (religiusitas), namun harus benar-benar merupakan suatu ekspresi iman dengan kualitas relasi yang baik dengan Tuhan. Orang Kristen yang tidak memahami arti hidup berhadapan dengan Allah dan kehadiran-Nya yang riil (coram Deo) dalam kehidupannya sehari-hari akan berperilaku tidak konsisten, tidak selaras, tidak harmonis dengan nilai-nilai kebenaran Alkitab. Justru sebaliknya ia akan mengalami konflik, kontradiksi serta penolakan terhadap prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan. Sehingga ia gagal bertumbuh dan gagal berbuah dan gagal menyatakan kemuliaan Allah di dalam hidupnya sebagai orang Kristen (Lukas 8:1-15). Integritas hanya akan ditemukan pada orang-orang Kristen yang berperilaku konsisten sesuai dengan kebenaran Firman Allah kapan pun dan dimanapun ia berada. Orang Kristen yang demikian memiliki motivasi hidup hanya untuk memuliakan Allah semata-mata, yang dilandasi oleh ketaatan, kesetiaan, keredahan hati, ketulusan di hadapan Allah, serta sukacita besar yang dilandasi rasa syukur akan kebesaran kasih Allah padanya (1 Kor 10:31; Kol 3:17,23). Orang Kristen yang  memiliki integritas memiliki hati nurani yang telah ditundukkan pada kuasa dan kedaulatan Allah dan telah menyerahka hidupnya ditawan sepenuhnya oleh Firman dan kehendak Allah. Coram Deo menegaskan bahwa orang Kristen berhadapan wajah dengan wajah dengan Allah, kapan saja dan dimana saja orang Kristen hidup dan beraktivitas. Penghayatan yang dalam dan dalam kesadaran yang tinggi akan hal ini akan membawa seorang Kristen kepada suatu sikap hidup yang penuh dengan kehati-hatian agar tidak terjatuh dalam kesalahan atau dosa yang tidak menyenangkan hati Allah. Ketika Yusuf digoda berulangkali oleh isteri Potifar, hingga puncak peristiwa dimana baju Yusuf ditarik oleh isteri Potifar dan tinggal berdua saja disebuah ruangan tanpa kehadiran orang lain. Yusuf tetap konsisten pada ketaatan-Nya pada Allah, ia menyimpan dalam hatinya rasa takut dan hormat kepada Allah “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej 39:9). Demikian juga sikap dan iman yang terlihat pada kawan-kawan Daniel ketika diancam akan dibakar ke dalam perapian yang sangat panas, mereka begitu percaya dan meyakini Allah sanggup menolong mereka, bahkan jika tidak ditolong pun mereka tetap konsisten untuk menolak menyembah patung raja dengan resiko hukuman mati dibakar (Daniel 3:17). Lagu sekolah Minggu yang sangat sederhana yang mengatakan “Hati-hati gunakan matamu, tanganmu…. dst. Allah Bapa di surga melihat ke bawah….  hati-hati gunakan seluruh anggota tubuhmu….” Mengajarkan kepada kita mengenai konsep dan aplikasi dari pemahaman tentang coram Deo, kapan dan dimana pun kita berada. Lagu ini mengajarkan agar orang Kristen tidak sembarangan menggunakan hidupnya dan tubuh-Nya beraktivitas dimana pun ia berada. Karena Allah sang pencipta yang berkuasa dan berdaulat ata ssegala sesuatu dan pemilik hidup itu selalu melihat dan memperhatikan. Apa alasan mendasar orang Kristen melakukan segala sesuatu dalam hidupnya dalam kerangka  coram Deo? Karena ia tahu bahwa seluruh totalitas hidupnya adalah milik Tuhan, dan semua itu telah terjadi melalui sebuah proses pembayaran yang sangat mahal dan ajaib (1 Pet 1:18-23). Ia tahu bahwa seluruh milik Allah harus dipergunaka demi kepentingan Allah, dan ia tidak memiliki hak untuk mempergunakannya secara sembarangan. Semua aktivitas dan semua yang dapat dilakukan dilakukan oleh dan dengan tubuhnya haruslah terjadi untuk memuliakan Allah (1 Kor 10:31; 1 Kor 6:19-20). Coram Deo adalah esensi dari kehidupan dan relasi orang Kristen dengan Allah yang menegaskan alasan hidup dan motivasi tertinggi hidup orang Kristen. Sekalipun kita hidup di dunia yang sementara namun menjadi sangat bermakna karena dijalani bersama Allah, berhadapan dengan wajah Allah, bertatapan dengan mata Allah. Mari kita menghidupi kehidupan yang bermakna, yang indah dan mulia di dalam kerangka coram Deo ini. Soli Deo Gloria.

Penulis melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru. (www.gsrikb.org)

 

Comments (0)
Dec
03

MISI ALLAH DALAM NATAL

By · Comments (0)

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Banyak orang Kristen yang sekalipun telah menjadi Kristen selama puluhan tahun dan juga telah merayakan Natal selama puluhan kali namun masih saja merasa memiliki pengenalan yang samar-samar mengenai keberadaan Yesus Kristus. Mereka tidak dapat menjelaskan mengapa Yesus harus datang ke dunia? Mengapa Allah harus menjadi manusia? Mengapa harus Yesus Kristus? Mengapa hanya Dia satu-satunya yang menjadi penebus dosa dan juruselamat manusia agar memperoleh hidup yang kekal? Keadaan seperti itu kemudian berlanjut dan berulang-ulang setiap kali merayakan Natal dengan pengertian yang tidak pernah utuh. Mengapa demikian? Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa banyak orang Kristen yang tidak memahami dengan jelas arti Natal yang sesungguhnya. Bisa disebabkan oleh kemalasan dalam membaca dan mempelajari Alkitab, kemalasan untuk pergi beribadah setiap hari minggu, atau mungkin juga karena banyak khotbah-khotbah di Gereja yang tidak terlalu menyinggung esensi terdalam dari Natal itu sendiri.  Mempertanyakan arti Natal selalu akan membawa kita kembali untuk memikirkan secara serius dan semakin mendalam mengenai kekayaan makna dari Natal itu.  Natal yang sesungguhnya tidak pernah direncakan oleh manusia, tetapi oleh Allah dan tidak direncanakan dalam kurun waktu sejarah hidup manusia. Natal dirancang Allah jauh sebelum penciptaan alam semesta sebagaimana keselamatan itu sendiri dirancang dalam kekekalan oleh Allah (Ef 1:4). Berita Natal adalah berita tentang sukacita yang besar untuk mengatasi kesedihan terbesar yang dialami manusia semenjak jatuh dalam dosa dan terkutuk di bawah dosa hingga kematian yang kekal. Yesaya 60:2 menegaskan: “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Mengapa Natal dirancang dalam kekekalan? Karena Allah dalam kemahatahuan-Nya yang sempurna (foreknowledge of God) bagaimana manusia akan gagal mentaati perintah-Nya setelah penciptaan. Allah sendiri juga yang menetapkan dan menegaskan kepada Adam dan Hawa bahwa jika mereka tidak taat pada perintah Allah mereka akan mati, bukan sekedar mati secara fisik, tetapi berada dalam kematian rohani selama-selamanya (Kej 2:16-17). Allah melihat dengan jelas kejadian kejatuhan manusia serta akibatnya yang fatal yang berdampak pada kecacatan moral manusia dan pada kematian yang kekal. Mungkin hanya Allah yang dapat memahami secara utuh kedalaman dan serta besarnya kerugian serta kerusakan yang terjadi pada manusia sebagai akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Allah melihat dan memahami semua itu secara sempurna dan dengan dengan kesedihan yang mendalam, bahkan dalam kekekalan Ia telah melihat dengan jelas kejatuhan manusia dengan semua akibat-akibatnya. Sehingga dalam sifat kasih-Nya yang sempurna Ia kemudian merancang misi penyelamatan bagi manusia, agar manusia tidak binasa dalam kekekalan melainkan dapat hidup dalam kekekalan (Yoh 3:16). Kabar tentang penyelamatan umat manusia itu telah dinubuatkan sejak kejatuhan Adam dan Hawa, Allah mengatakan bahwa si ular akan diremukkan oleh Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus (Kej 3:15; 1Kor 15:55-57).  Melalui para Nabi dalam Perjanjian Lama Allah menubuatkan kabar keselamatan yang besar ini. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.(Yesaya 9:5-6, baca Yes 9:1-6; Yes 7:14; Mikha 5:2).

 

Misi Allah Dalam Natal

Lalu misi apa yang dirancangkan Allah mengenai nubuatan itu? Allah merancang sebuah misi penebusan, sebuah misi pengampunan dan pembebasan manusia dari dosa dan akibat-akibatnya supaya manusia tidak binasa. Allah sendiri menetapkan persyaratan untuk menebus dan mengampuni dosa manusia, yaitu darah manusia yang sempurna dan tidak bercacat, dan semua itu hanya dapat dilakukan dengan darah Yesus Kristus (Im 17:11; Ibr 9:22; Rm 3:25; Efe 1:7; Mat 26: 28). Misi Natal adalah melahirkan dan menghadirkan satu-satunya pribadi yang memenuhi syarat dan yang sanggup menebus dosa semua manusia. Inti Natal adalah kelahiran seorang manusia sejati dan yang sempurna, tanpa cacat dan tanpa dosa karena Ia adalah Allah yang menjadikan diri-Nya menjadi manusia dan hidup diantara manusia. Dari pra eksistensi Yesus Kristus sebagai Allah hingga kehadiran-Nya di dalam dunia sebagai manusia jelas tertulis di dalam Alkitab. Pada mula-Nya Ia bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah, dan segala sesuatu diciptakan oleh Dia, baik yang ada di surga maupun yang ada di bumi (Yoh 1:1-3). Hanya Yesus Kristus yang dapat memenuhi syarat penebusan dan hanya Yesus sanggup menggantikan semua orang berdosa dihadapan Allah. Ia yang adalah Allah sejati dan sempurna yang kemudian menjadikan diri-Nya menjadi manusia melalui proses dilahirkan sebagai manusia sejati melalui Rahim seorang perawan Maria (Lk 1:26-38). Kelahiran-Nya sudah dinubuatkan sebagai keturunan yang lahir dari keturunan Daud: “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.” (2 Tim 2:8). Kelahiran dan kematian Yesus Kristus merupakan tema utama dan inti utama berita Injil. Filipi 2:6 mengugkapkan sifat penting penyerahan diri Kristus. “Dia yang dalam rupa Allah, kemudian “menjadi” manusia untuk sementara waktu. Sekalipun demikian Kristus tetap memiliki sifat sebagai Allah seutuhnya. Hal ini mengacu pada sifat dasarnya yang tidak berubah, sifat-Nya adalah bahwa dia adalah Allah yang tidak pernah berubah. Kata “morphe” dalam bahasa Yunani juga mengacu pada karakteristik atau kualitas atribut Allah yang tidak berubah. Nama Imanuel yang diberikan kepada Yesus dalam bahasa Ibrani berarti “Allah beserta kita,” El menjadi nama atau kata untuk Allah. Dia adalah Allah beserta kita dan Dia akan selalu menjadi Allah yang hadir menyertai kita. Surat Ibrani 1:3 mengatakan bahwa “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Kolose 1 ayat 15 mengungkapkan keberadaan-Nya yang sempurna dan menyatakan bahwa “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.” Dia adalah representasi langsung dari Allah yang tidak kelihatan.  Yesus Kristus adalah pribadi Allah yang kekal. Dia memiliki semua atribut Allah, semua karakteristik yang dimiliki Allah. Dia tidak memiliki kekurangan dari keberadaan Allah dalam arti yang sepenuhnya. Setiap orang atau malaikat yang menyatakan diri sama atau ingin menyamai dirinya dengan Allah dikutuk dan dihukum oleh Allah (Lucifer, Pilatus). Namun Kristus dengan tegas menyatakan diri-Nya sama dengan Allah, menyatakan diri-Nya adalah satu dengan Allah Bapa (Yoh 10:30). Sekalipun dalam sifat utama-Nya, Kristus memiliki semua atribut dan semua karakteristik Allah, Alkitab menyatakan bahwa “Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan.” Dalam keberadaan-Nya yang utuh dan sempurna itu (Self sufficient) tidak memiliki keperluan apa pun dan terhadap apa pun diluar diri-Nya. Namun Ia merelakan diri-Nya menjadi manusia yang terbatas, sehingga ia membutuhkan makanan, minuman, pakaian dsb, selama Dia di dunia. Kesetaraan dengan Allah merupakan keberadaan yang menempel di dalam diri Kristus. Kristus memiliki kesetaraan mutlak dan kepenuhan mutlak sebagai Allah di surga dan dalam kekekalan. Sekalipun Ia memiliki keberaadaan yang mutlak sebagai Allah tapi dia bersedia untuk melepaskannya untuk sementara waktu sampai proses penebusan di kayu salib selesai dilaksanakan. Dia bersedia mengosongkan diri-Nya (kenosis) sampai semua yang diperlukan untuk penebusan diberikan. Aspek apa saja yang dilepaskan ketika Yesus Kristus mengosongkan diri-Nya? Mungkin ada orang berpikir bahwa Yesus mengosongkan diri-Nya dari keilahian-Nya, tetapi sesungguhnya tidak demikian, Dia tidak melakukannya karena Dia tidak dapat melakukan-Nya. Karena itu adalah sifat-Nya, pribadi-Nya dan itulah esensi diri-Nya. Tidak mungkin Yesus melepaskannya karena esensi dari sifat Allah tak terpisahkan dari karakteristik dan atribut-Nya sebagai Allah. Lalu aspek apa yang dikosongkan ketika Kristus menjadikan diri-Nya manusia? Dalam Yohanes 17:4-5  Ia mengatakan, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”  Dia mengosongkan diri-Nya dengan melepaskan kemuliaan-Nya, kemuliaan ilahi yang menempel dan menyatu di dalam diri-Nya. Dia menyerahkan kehormatan-Nya, kekayaan keilahian-Nya dan semua hak istimewa-Nya sebagai Allah yang mulia, berdaulat, kekal dan tidak terbatas. Dia memilih untuk melepaskan kemuliaan-Nya untuk sementara waktu dan menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa sesuai kehendak Bapa. Jadi Natal adalah misi agung Allah sendiri yang rela meninggalkan posisinya sebagai Raja yang mulia untuk menerima posisi seorang hamba. Ketika berada dalam rupa manusia itulah Dia benar-benar memberikan diri-Nya dan memberikan darah-Nya yang kudus menjadi tebusan sempurna bagi dosa-dosa seluruh umat manusia (Ibr 9:22; 1Pet 1:18-20). Itulah finalitas dari Natal dan misi Allah yang terkandung dalam Natal. Natal tidak akan berarti tanpa kematian Kristus di kayu salib. Mati di kayu salib itu menyakitkan, memalukan dan  terkutuk (Ul 21:23; Gal 3:13). Namun Kristus menjadi kutuk karena kita, Dia menerima murka Allah atas nama kita supaya kita tidak binasa dalam kekekalan namun memperoleh hidup yang kekal di dalam Dia (Yoh 3:16), dan seluruhnya adalah anugerah Allah (Ef 2:8-9). Selamat merayakan Natal dengan sukacita terbesar. Gloria In Excelsis Deo.

(Penulis melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia Kebayoran Baru).

Categories : Uncategorized
Comments (0)